Pengertian Bakpia Pathok 25

Bakpia pathok adalah kue berbentuk bulat yang terbuat dari campuran kacang hijau dan gula lalu dibungkus dengan tepung dan dipanggang. Awal mulanya bakpia berasal dari daratan Tiongkok. Bakpia pathok adalah salah satu produk yang berkembang di daerah Yogyakarta. Bakpia pathuk menjadi salah satu makanan khas sekaligus oleh-oleh dari Yogyakarta. Ini merupakan salah satu wujud nyata.
Asal Nama Bakpia Pathok 25

Bakpia ini berasal dari negeri Tiongkok. Di negeri tersebut kue ini diberi nama Tou Luk Pia yang memiliki arti kue pia kacang hijau. Bakpia berasal dari Bahasa Tionghoa dialek Hokkien, salah satu bahasa Tionghoa adalah kata bak yang berarti “daging” dan pia yang berarti “kue”, yang berarti “roti berisikan daging”.
Di negeri asalnya, bakpia mempunyai ukuran yang lebih besar dibandingkan Bakpia Pathuk serta berisi daging yang sudah diolah, sementara itu Bakpia Pathuk berisi kumbu yang dibuat dari kacang hijau.
Sebenarnya bakpia diambil dari makanan khas Tiongkok, seiring dengan perubahannya jaman isian bakpia mulai disesuaikan dengan budaya Indonesia seperti yang sudah dilakukan di masa lampau dengan mengganti isian tersebut dengan kacang hijau.
Sejarah Bakpia Pathok 25

Babad ke 20 para imigran Tionghoa membawa bakpia tersebut dari negaranya ke daerah Yogyakarta dan di sebut sebagai makanan impor. Bakpia mungkin sudah ada sejak tahun 1930-an. Dan dimiliki oleh keluarga pedagang Tionghoa yang sangat banyak menempati pusat Kota Yogyakarta.
Jenis makanan ini awalnya bukanlah makanan komersial, selain itu juga bukan makanan yang bernilai kultural seperti kue keranjang yang menjadi ciri khas kue dalam perayaan Imlek. Makanan tersebut sebagai pelengkap dari kue keranjang dan sebagai camilan keluarga.
Pada tahun 1940 resep bakpia di bawa oleh kwik dari tionghoa. Waktu itu, Kwik sampai di Yogyakarta lalu menyewa sebidang tanah yang dimiliki oleh warga bernama Niti Gurnito yang bertempat tinggal di Kampung Suryowijayan,Kelurahan Gedongkiwo, Kemantren Matrijeron, Kota Yogyakarta. Kwik mencoba berjualan dengan membuat bakpia. Awal membuat bakpia kwik menerapkan resep asli yang berasal dari negaranya dan menggunakan bahan dasar babi, minyak babi dan daging babi di guanakan sebagai pengolahan bakpia tersebut.
Setelah Kwik tahu masyarakat Yogyakarta mendominasi umat muslim dan tidak mengonsumsi daging babi atau produk yang berbahan babi lainnya, Kwik langsung mengganti bahan dasar bakpia tanpa menggunakan minyak babi dan daging babi. Kwik mengganti isian bakpia menggunakan kacang hijau. Untuk memanggang bakpia yang dibuatnya, Kwik selalu membeli arang dari rekannya yaitu Liem Bok Sing adalah perantau dari Tiongkok.
Tahun 1980-an, usaha pembuatan bakpia Liem berkembang pesat. Liem mengajak warga kampung sekitar untuk bekerja di tempat usahanya yaitu Ngampilan, Sanggrahan, Ngadiwinatan, dan Kampung Pathuk. Sebagian karyawan sudah berhasil mencuri resep lalu membagikan cara pembuatan bakpia kepada warga sekitar dan sampai membuka kursus untuk membuat bakpia tersebut.
Sampai akhirnya pemilik Bakpia Pathok 75 juga mengambil bakpia dari situ karena tingginya permintaan wisatawan. Di era inilah, bakpia yang telah mengalami perubahan resep menjadi makanan khas Yogyakarta kawasan Pathuk, yang melingkupi Kampung Sanggrahan, Kampung Ngadiwinatan bagian utara, Kampung Ngampilan bagian utara,Kampung Pathuk bagian barat, dinobatkan sebagai kampung bakpia.
Perkembangan Bakpia Pathok 25

Masa awal diproduksi dan pemasaran, bakpia pathok dikemas menggunakan besek tanpa label. Pada tahun 1948 keluarga keturunan Tionghoa lainnya yang bertempat tinggal di kampung Pathuk bernama Goei Gee Oe mencoba membuat bakpia sebagai industri rumahan. Pada saat itu bakpia buatannya tidak dijual di toko melainkan dijual secara satuan dari rumah ke rumah.Bakpia buatan Goei Gee Oe belum dikemas dan diberi label seperti sekarang hanya dimasukkan dalam besek (wadah makanan berbentuk kotak yang terbuat dari anyaman bambu).
Pada tahun 1980 pembuatan bakpia di daerah Pathuk semakin meluas. Seiring berkembangnya zaman kemasan bakpia mulai berubah menggunakan kertas karton yang diberi label. Di waktu yang sama muncullah bakpia lain dengan merek dagang yang sama tetapi nomor berbeda.
Pada tahun 1990 bakpia mulai dikenal oleh masyarakat yang berada di luar daerah Yogyakarta dan produk tersebut semakin banyak diminati oleh masyarakat. Hal ini diangkat menajdi icon Yogyakarta sebagai kota wisata. Sejak kunjungan wisata meningkat, warga setemepat mulai belajar untuk membuat bakpia. Tahun 1992 adalah era yang sangat “booming” Bakpia Pathuk dan makanan tersebut masih booming hingga saat ini.
Jenis dan Rasa Bakpia Pathok 25

Generasi ketiga bakpia tidak hanya berisi kacang hijau, di zaman sekarang lebih beragam seperti kumbu hitam, coklat, keju, nanas, durian, coklat kacang, dan berbagai macam rasa lainnya, seperti bakpia rasa cappuccino, bakpia ubi ungu, dan bakpia kimpul.
Kepopuleran Bakpia Pathok 25

Sebagai makanan tradisional khas Yogyakarta, bakpia pathok sudah menarik banyak perhatian wisatawan. Di antaranya ialah pada bulan Juli 2010, Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia telah bekerja sama dengan KBRI di Moskow untuk sebuah program Familiarization Trip dan diikuti oleh wartawan dari Rusia untuk menjelajah Indonesia.
Beberapa wartawan kuliner dari Locator Press Agency (Food, Wine & Travel) yang dikhususkan untuk meliput wisata kuliner di Indonesia. Sejumlah daerah di Indonesia yang dikunjungi adalah Yogyakarta dan mereka sangat tertarik dengan beberapa makanan tradisional Yogyakarta, di antaranya ialah bakpia pathok.
Penamaan Merek Bakpia Pathok 25

Awal mualnya pembuat bakpia pathok memberikan merek bakpia menggunakan nomor rumah tempat mereka membuka usaha. Lieam memberikan merek “Bakpia Pathok 75” karena tempat tersebut adalah tempat pertama mereka mendirikan usaha di Jalan Pathuk No. 75.
Dan Tan Aris Nio adalah perintis lanjutan dari camilan Bakpia Pathuk dan memberikan merek “Bakpia Pathok 25” karena tempat tersebut merupakan awal mula membuka usaha di Jalan Pathuk No. 25. Dan warga sekitar yang tinggal di perbatasan jalan maupun di dalam kampung, ikut serta membuka usaha rumahan produk bakpia dan memberi merek mengguakan nomor rumah masing-masing, Contohnya Bakpia 55, Bakpia 57, Bakpia 99, dan lainnya.
Seiring perkembangan zaman, lalu muncul merek lainnya tanpa menggunakan nomor tempat produksinya, misalnya Bakpia Agung,Bakpia Kencana, dan lainnya. Pemberian merek tentunya sesuai selera masing-masing pengusahanya dan bukan lagi memilih pada nomor rumah atau nomor toko tempat mereka membuka usaha.
